Tampilkan postingan dengan label Barbus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barbus. Tampilkan semua postingan

2011/05/27

Dokun (Barbus leteristriga), Ikan hias yang tidak pernah berhenti berenang

Dokun/Wader/Seluang (Barbus leteristriga) termasuk salah satu jenis ikan hias air tawar yang dapat dipelihara dalam akuarium. Ikan ini kadang - kadang disebut juga Kapiau. Daerah penyebarannya bisa dijumpai di perairan sungai di kawasan Muangthai dan semenanjung Malaya (Malaysia). Sedangkan di Indonesia terdapat di perairan sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.



Ikan dokun, , dari Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera SelatanIkan yang bermarga Barbus ini memiliki ciri - ciri : bentuk tubuhnya mirip ikan Barbus pentazona (baja/ikan Sumatera). Warna dasar tubuhnya kuning muda keperak - perakan sehingga kelihatan cantik, menawan, dan manis ( cawan manis ). Memiliki sebuah sirip ekor (cudl fin) yang simetris, sebuah sirip punggung (dorsal fin), sebuah sirip dubur (anal fin), sepasang sirip dada (pectoral fin), dan sepasang sirip perut (ventral fin). Warna sirip dada agak transparan, sedangkan sirip - sirip lainnya disamping transparan juga terdapat sentuhan sedikit warna biru. Tanda lainnya yang agak menonjol adalah terdapatnya sapuan warna hitam secara melintang dan membujur. Sapuan (jalur) melintang terdapat pada dua bagian. Jalur melintang pertama dimulai dari belakang insang bagian atas yang mengecil hampir mencapai pectoral fin. Jalur melintang kedua berpangkal dari dorsal fin yang juga mengecil hampir mencapai ventral fin. Sedangkan jalur membujur dimulai dari pangkal caudal fin menuju ke depan hingga hampir mencapai jalur melintang kedua. Selain itu, di atas pangkal anal fin ditemukan bercak kecil berwarna hitam (black spot).

Di alam bebas, dokun bisa mencapai ikuran panjang sampai 20 cm, sedangkan bila dipelihara dalam akuarium semenjak kecil hanya berukuran 7 - 10 cm.

Tingkah laku
Ikan ini dikenal sebagai ikan yang aktif. Ia hampir tidak pernah kelihatan berhenti berenang, tetapi selalu mondar - mandir, kesana - kemari. Daerah renangnya (swimming zone) lebih senang dibagian dasar akuarium. Makanan yang paling digemari adalah jenis yang bergerak, misalnya jentik - jentik nyamuk, kutu air, atau hewan air lainnya. Aktivitas renangnya kelihatan lebih menonjol saat lapar (kekurangan makanan). Dalam kondisi demikian kadang - kadang memperlihatkan sifat yang agresif dan buas, misalnya dengan seenaknya menyerang dan mengejar ikan jenis lainnya, terutama yang berukuran sama atau lebih kecil.

Padahal ikan ini sebenarnya dikenal sebagai ikan yang alim (tidak banyak tingkah) dan lebih senang damai dan rukun dengan jenis ikan hias lainnya. Karena keadaan yang mendesak (seperti kekurangan makanan), maka dokun memiliki sifat agresif. Itu pun mulai timbul setelah ia beranjak dewasa, yaitu berukuran sekitar 6 cm.

Oleh sebab itu, selama memelihara dokun harus selalu diperhatikan jangan sampai kelaparan. Kalau Anda mau mengisi akuarium  lebih dari satu jenis ikan termasuk Dokun di dalamnya, maka sebaiknya ikan jenis lain tersebut paling tidak berukuran sama atau lebih besar dari ikan Dokun. Kalau tidak demikian, dikhawatirkan akan menjadi bulan - bulanan atau mangsa keagresifannya yang kadangkala muncul.

Karena kebiasannya yang senang mengorek - ngorek, dianjurkan dasar akuariumnya terbuat dari pasir yang halus sehingga memudahkan bagi dokun untuk mengorek (mengungkit - ungkit) dan mencari makanannya. Disamping itu juga untuk menghindari atau mencegah terjadinya luka - luka pada mulutnya.

Pembudidayannya
Mengembangbiakan dokun sebenarnya tidak terlalu sulit karena ia lebih cepat dan mudah beradaptasi dengan daerah baru di luar habitatnya serta mudah diternakan dalam akuarium, sepanjang memenuhi syarat untuknya, inilah sisi keuntungannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangbiakan dokun, antara lain :

  • Harus disiapkan akuarium khusus untuk pemijahan, tidak boleh dicampur dengan jenis ikan hias lainnya. Ukuran akuarium disesuaikan dengan kebutuhan. Akuarium ini perlu dilengkapi rerumputan air dengan tujuan agar telur - telur yang dihasilkan nantinya dapat dilekatkan pada rerumputan tersebut.
  • Induk jantan/betina yang digunakan adalah yang sudah matang telur atau siap memijah. Dokun yang berukuran sekitar 7 cm sudah siap dijadikan induk. kemudian sepasang induk tersebut dimasukkan ke dalam akuarium yang telah dipersiapkan tadi.  Selang beberapa saat, pasangan ini memperlihatkan bahwa pemijahan akan segera berlangsung. tanda - tandanya dimulai dari ikan jantan yang selalu mengejar si betina. Pengejaran ini tidak bertujuan untuk menyerang, melainkan untuk bulan madu (honey moon). Dengan penuh semangat dan gairah si jantan mendesak sang betina ke arah tanaman air yang dianggapnya cukup aman untuk melakukan pemanasan (fore play) dan ini dikerjakan/dilakukan terus - menerus. Permainan cinta berakhir ditandai keluarnya telur dari kandungan sang betina. Sekali keluar mencapai 4 - 5 butir telur. Perlu diketahui bahwa proses pemijahan ini tidak hanya berlangsung satu atau dua kali saja, akan tetapi bisa berkali - kali dalam waktu yang cukup panjang, yaitu antara 1 - 2 hari. Setelah sekitar 1 - 2 hari anda akan menyaksikan telur - telur dokun sudah mulai menetas. Bentuknya seperti jentik - jentik halus yang melayang - layang dalam air disekitar tempat penempatan telur (rerumputan). Makanannya masih berasal dari kantong telur (yolk sac) yang masih tersedia. Selama itu pula benih - benih ikan belum mampu melakukan gerakan dengan tenaganya sendiri sehingga pergerakannya hanya mengikuti gerakan air dalam akuarium.
  • Mengingat sifat dokun yang sewaktu - waktu dapat muncul sifat agresif dan buasnya, maka sebaiknya induk dokun (jantan dan betina) segera dipindahkan ke tempat lain setelah telur - telurnya menetas. Sebab, pada awal kelahiran anaknya sangat riskan/rentan sekali bila tetap berkumpul dengan kedua induknya. Bisa jadi induk tersebut memangsa dan menyantap anaknya sendiri.
  • Setelah berumur 3 hari, anak - anak ikan sudah mulai bisa berenang dengan dayanya sendiri. Mulai saat itu pula anak ikan sudah boleh diberikan makanan tambahan berupa infusoria atau artemia.



2011/03/11

Ikan Sumatera ( Barbus tetrazona )


Diantara jenis ikan hias asli Indonesia, ikan Sumatera yang cukup populer yang memiliki nama latin Barbus tetrazona. Memiliki bentuk badan memanjang dan pipih kesamping. Diantara jenis ikan hias yang ada di Indonesia, ikan ini memang tegolong berukuran kecil. Di alam aslinya, ukuran panjang totalnya mencapai 8 Cm. Meskipun berukuran kecil ternyata ikan Sumatera ini memiliki banyak penggemar, hal ini karena pesona warna tubuhnya yang menawan.
Bila diamati, warna dasar tubuh ikan Sumatera ini kuning muda hingga putih keperakan. Pada bagian punggungnya, ada semburat warna sawo matang kehijauan. Yang paling mempesona adalah warna khas berupa empat buah garis hitam kebiruan yang memotong tubuhnya secara vertikal. Garis pertama memotong kepala melewati mata dan tutup insang. Garis kedua melewati sebelah bawah badan sampai bagian depan sirip punggung. Kemudian garis ketiga memotong samping sirip punggung hingga jari-jari sirip anal pertama. Sedangkan garis keempat menghiasi bagian pangkal ekor.

Cara Menggabungkan Ikan Sumatera dengan Ikan Jenis Lainnya dalam Satu Wadah :
Untuk membudidayakan ikan ini, sebenarnya cukup mudah. Namun agar ikan cantik ini betah menjadi penghuni akuarium atau kolam semen, ada baiknya bila kita mengenali tabiatnya dulu.
Pada waktu masih muda, ikan Sumatera termasuk jenis pendamai. Dia tidak akan rewel meskipun dicampur dengan ikan lainnya seperti Discus, maskoki atau Manfis. Dalam satu wadah, mereka akan akur-akur saja. Namun setelah ikan Sumatera mencapai dewasa, sebaiknya segera dipindahkan dalam wadah tersendiri, karena tabiatnya akan berubah menjadi suka usil dan nakal. Dikhawatirkan, bila tetap dicampur dalam satu wadah, ikan-ikan perenang lamban ( Discus, Maskoki, dan Manfis ) tersebut akan diganggunya. begitu juga ikan-ikan yang memiliki ukuran lebih kecil dari ikan Sumatera, biasanya menjadi stress karena selalu diusik dan dikejar-kejar.

Wadah untuk ikan Sumatera ini, bisa berupa akuarium atau kolam semen. Yang perlu diperhatikan, agar ikan Sumatera ini bisa hidup nyaman dan sehat, maka kondisi air perlu mendapat perhatian tersendiri. Air yang digunakan sebaiknya bersih, jernih dan sudah diendapkan selama 24 jam. Suhu air diusahakan tetap stabil antara 25 - 27 derajat celcius.
Bila diinginkan, dalam satu wadah ikan Sumatera masih tetap bisa dicampur dengan ikan hias jenis lain. Namun agar bisa hidup secara rukun dan berdampingan perlu pengaturan tersendiri. Caranya, ikan Sumatera tersebut harus berkelompok ( 5 - 8 ekor ) dengan sesama jenisnya. Dengan cara ini, kenakalan ikan Sumatera bisa diredam. Selain itu, ikan jenis lain yang mendapingi kelompok ikan Sumatera dipilih dari jenis yang gesit berenangnya dan berukuran seragam. Misalnya saja ikan Tambakan, Zebra danio, atau Botia.


Pemberian Pakan :
Soal makanan ikan Sumatera ternyata tidak begitu rewel. Segala jenis makanan yang diberikan tidak akan ditolaknya. Meskipun demikian, jenis pakan hidup seperti daphnia atau cacing sutera merupakan jenis pakan yang paling disukainya. Pemberian pakan tidak perlu berlebihan agar air dalam wadah tidak cepat keruh dan merusak pandangan. Bila persedian ada, sesekali boleh juga ikan Sumatera ini dikasih pakan berupa udang kali yang telah dilumatkan. Pakan jenis ini, ternyata cukup ampuh untuk menyulap warna tubuh ikan lebih cerah dan mempesona.


Cara Budidaya :
Ikan jantan dan betina yang sudah dewasa dapat dibedakan dengan cara melihat tingkat kecerahan warna yang dimiliki dan bentuk tubuhnya. Pada ikan Sumatera jantan warna tampak lebih menyala. Ikan betina memiliki tubuh yang lebih berisi, padat. Dan untuk ikan Sumatera betina yang sudah siap berpijah pada bagian perutnya mengembung.
Pemijahan biasanya diawali dengan saling kejar-kejaran antara ikan jantan dan betina diantara tanaman air. Untuk pemijahan ini sebaiknya ukuran ikan betina jangan terlalu besar dari ukuran jantannya. Ia akan bersikap galak dan mengejar jantan pasangannya, terkadang sampai ikan jantan yang dikejarnya mati.
Pemijahan ini berlangsung dalam waktu singkat, terutama bila pasangan yang akan dipijahkan mendapatkan air baru dan tempat pemijahan yang dilengkapi dengan tanaman air berdaun lebar.
Telur-telur yang dihasilkan dari pemijahan berjumlah 150 - 200 butir per ekor, menempel pada tanaman air secara berkelompok. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 24 jam.
Setelah pemijahan, induk sebaiknya dipisahkan untuk mengamankan telur yang baru dihasilkan dari pemangsaan oleh pasangan yang selesai memijah, dipindahkan ke dalam akuarium yang bersirkulasi untuk mencegah kematian karena kelelahan.



Sumber : PIP.