Tampilkan postingan dengan label Gourami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gourami. Tampilkan semua postingan

2011/05/05

Ikan Sepat Mutiara dan Pemeliharaannya

Sejalan dengan pergeseran pola konsumsi ikan, dari pemenuhan kebutuhan pangan kearah pemuasan rohani, dunia perdagangan ikan hias pun mulai mendapat perhatian yang serius dari masyarakat. Melalui jenis, warna, ukuran dan bentuk tubuhnya, ikan hias memegang peranan penting untuk menambah kesegaran, keindahan dan kesejukan lingkungan sekaligus dapat menghilangkan rasa jenuh dan ketegangan, sehingga baik untuk kesehatan.
Salah satu jenis ikan hias yang memiliki warna cukup indah adalah ikan Sepat Mutiara (Trichogaster leeri) yang dikenal dengan sebutan ikan Sepat. Ikan sepat mutiara merupakan ikan hias air tawar yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan ikan sepat Siam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Perbedaannya yaitu ikan sepat mutiara memiliki warna yang lebih indah sehingga orang merasa sayang untuk mengkonsumsinya Jadi ikan tersebut hanya untuk dinikmati keindahan warna dan geraknya.
Ciri - ciri ikan sepat mutiara yaitu mempunyai badan yang memanjang dengan potongan pipih kesamping. Mulutnya kecil dengan moncongnya runcing. Sirip anal sangat panjang seperti benang, sirip sebelah belakang menonjol keluar. Warna dasarnya sawo matang, sisi badannya kelabu kadang - kadang biru kehijauan menghias tubuhnya. Dengan panjang dapat mencapai 12 cm. Hal yang paling khas dari ikan sepat mutiara adalah keindahannya yang menyerupai manik - manik mutiara yang terpencar dari pola warnanya yang memikat. Hal ini yang menyebabkan ikan ini disebut ikan sepat mutiara.
Cara pemeliharaan ikan sepat mutiara tidak terlalu sulit, cukup dengan menjaga air pemeliharaan agar tidak tercemar dan kelarutan oksigen tetap terjamin serta makanan yang tetap tersedia. Untuk menjamin kelarutan oksigen didalam wadah pemeliharaan sebaiknya menggunakan aerator. Kelarutan oksigen yang ideal untuk ikan sepat mutiara tidak kurang dari 2,6 ppm. Suhu air berkisar 24 - 28 derajat Celcius dan derajat keasaman (pH) 6,5 - 8.
Jenis makanan untuk ikan sepat mutiara dapat berupa makanan alami ( makanan yang diperoleh dari hasil penangkapan di alam atau pemeliharaan ) atau makanan buatan. Makanan alami dapat berupa jentik nyamuk, kutu air atau cacing sutera ( tubifex ), sedangkan makanan buatan dapat diperoleh di toko - toko makanan ikan hias. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa pemberian makanan yang tepat, baik jumlah maupun jenis berpengaruh terhadap pertumbuhan dan keindahan warna ikan sepat mutiara. Sebagai contoh, pemberian jentik nyamuk memberi pertumbuhan lebih baik terhadap ikan sepat mutiara dibanding pemberian makanan dengan kutu air atau cacing sutera ( tubifex ). namun tidak berarti bahwa ikan sepat mutiara harus selalu diberi jentik nyamuk. Sebab pemberian satu jenis makanan terus - menerus akan mengakibatkan rasa bosan bagi ikan, selain itu dapat mengakibatkan kekurangan zat - zat makanan untuk kebutuhan ikan, bila zat - zat makanan tersebut tidak terdapat dalam jentik nyamuk. Selanjutnya dari hasil penelitian diketahui pula bahwa pemberian makanan yang bervariasi, mengakibatkan warna ikam akan menjadi lebih indah dan pertumbuhannya lebih baik. Hal ini disebabkan karena pemberian makanan yang bermacam - macam dapat melengkapi kebutuhan zat - zat makanan yang dibutuhkan oleh ikan sepat mutiara.
Keindahan warna ikan sepat mutiara dapat pula ditentukan oleh kondisi air pemeliharaan. Pergantian air yang teratur akan berdampak positif terhadap warna dan kesehatan ikan. Untuk pemeliharaan di dalam akuarium pergantian air sebaiknya dilakukan sekali seminggu sebanyak 20% dari volume akuarium, sedangkan untuk pemeliharaan di kolam - kolam ikan, pergantian air dilakukan sekali dalam dua minggu sebanyak 20% dari volume kolam ikan.
Warna yang pudar dan gerakan yang lamban merupakan ciri - ciri bahwa ikan sepat mutiara terkena penyakit. Tindakan awal yang harus dilakukan yaitu memisahkan ikan yang kurang sehat tersebut dari ikan sepat mutiara lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penyebaran penyakit yang dapat berjangkit pada ikan - ikan lainnya.
Dengan pergantian air yang teratur dan pemberian makanan dalam jenis dan jumlah yang tepat serta pemberian oksigen yang terus - menerus dari aerator, akan diperoleh ikan sepat mutiara yang indah, lincah dan sehat.


© 2011 by Nirwana Aquarium



Sumber : Pedoman Rakyat ( 24 April 1991 ), Dok Trubus.

2011/05/03

Tambakan ( Helestoma temmencki ), Ikan Hias Yang Suka Berciuman

Bagi masyarakat di pedesaan, ikan tambakan yang memiliki nama keren " helestoma temmencki", nampaknya lebih dikenal sebagai ikan lauk teman nasi. Dikalangan para akuaris dan masyarakat kota penggemar ikan hias, ikan tambakan dinaikkan pamornya sebagai ikan pajangan penghuni akuarium. Hal ini dapat kita maklumi, karena tambakan ternyata jenis ikan yang memiliki pesona tersendiri sebagai ikan hias. Pesona utama ikan dari keluarga Anabantidae ini adalah tingkah lakunya yang unik, yakni senang berciuman dengan sesamanya. Gara - gara tingkah lakunya ini, maka dikalangan para akuaris ikan tambakan lebih populer dipanggil dengan nama Kissing Gourami.

Sosok Tambakan
Mengamati bentuk badan ikan tambakan, sepintas lalu memang ada kemiripan dengan bentuk badan ikan Gurame, sama - sama oval dan gepeng. Ikan asli Indonesia ini, di alam bebas dapat dijumpai di perairan rawa dan sungai yang beraliran tenang. Di alam aslinya ikan ini dapat tumbuh hingga mencapai ukuran 25 cm. Namun bila dipelihara dalam bak atau akuarium, paling ukurannya samapi 20 cm saja.
Di Indonesia, selama ini tercatat ada 2 jenis ikan tambakan yang banyak dibudidayakan masyarakat. Jenis pertama, dikenal dengan nama "Tambakan Gibas". Jenis ini memiliki warna tubuh hijau keperakan dan putih mengkilap dibagian perut. Matanya jernih dan membiaskan sinar bila terkena cahaya lampu. Jenis kedua, dikenal dengan nama "Tambakan Kanyeri". Warna tubuhnya kekuning - kuningan dan beberapa sisik berwarna mengkilap. Pada bintik mata tambakan kanyeri ini, biasanya berwarna agak kelabu.

Cara Budidaya
Untuk menyaksikan kaum tambakan saling berciuman setiap hari, tak ada salahnya bila kita mencoba untuk membudidayakannya. Sebagai wadah budidaya, kita bisa menggunakan bak tembok atau akuarium. Ukuran bak, cukup 2 X 1 X 0,5 M3. Sedangkan akuarium, berukuran 80 X 40 X 45 Cm3. Bila diinginkan, wadah budidaya ini nantinya dapat juga dimanfaatkan sebagai wadah pemijahan pasangan tambakan.
Agar kaum tambakan dapat hidup nyaman di wadah budidaya, maka air sebagai media hidupnya diusahakan memiliki suhu sekitar 25 - 30 derajat Celcius dan keasaman (pH) air 7,4 - 7,6. Pada kondisi air yang dikehendaki tersebut, tambakan akan berenang lincah hilir mudik. Bila bertemu dengan sesamanya akan saling memoncongkan mulutnya untuk berciuman, tanda kebahagiaan mereka atas kekuasaan wilayah barunya ( diwadah budidaya).
Bila kita ingin memijahkan pasangan tambakan, maka dalam wadah budidaya perlu dilengkapi dengan tanaman air yang mengapung (misalnya, eceng gondok). Tanaman air ini, nantinya sebagai tempat penyusun sarang busa oleh induk jantan.
Sebagai calon induk, sebaiknya dipilih dari ikan tambakan yang sudah mencapai ukuran sekitar 12 cm atau telah mencapai usia antara 12 - 18 bulan. Induk betina, biasanya memiliki badan relatif lebih tebal dan agak membulat. Perutnya mengembang dengan pangkal sirip dada berwarna kemerah - merahan. Induk jantan yang siap kawin, biasanya sering tinggal dan berenang dibawah tanaman air dan memiliki temperamen galak dan liar bila didekati sesama kaum jantan.
Biasanya, bila kaum tambakan sudah dilanda asmara, mereka dengan sendirinya akan mencari pasangannya masing - masing. Bila ada kecocokan, si jantan akan menggiring betina pujaannya ke sarang busa yang telah disusunnya. Di bawah sarang ini, si betina akan segera mengeluarkan telurnya dan si jantan segera membuahinya. Kejadian ini, biasanya berlangsung pada malam hari dan suasana yang tenang.

Perawatan benih
Selesai pemijahan, induk sebaiknya segera dipindahkan ke wadah lain. Telur hasil pemijahan tetap dibiarkan pada wadah semula. Bila tidak ada aral melintang, telur akan menetas dalam waktu 24 - 26 jam kemudian. Pada 3 (tiga) hari pertama setelah menetas, larva yang berukuran lembut ini belum perlu diberi pakan, karena larva masih mengandalkan pakan berupa kuning telur yang dibawanya sejak lahir.
Memasuki hari ke 4 (empat) hingga benih berumur 2 (dua) minggu, pakan berupa rotifera sudah boleh diberikan, sehari 3 (tiga) kali. Menginjak minggu ketiga, pakan sebaiknya mulai diganti yang berukuran agak besar. Kita bisa menggunakan pakan alami berupa moina atau daphnia. Menjelang benih berumur 1 (satu) bulan, makanan berupa jentik nyamuk atau cacing sutera sudah boleh mulai diperkenalkan. Dengan pemberian pakan bergizi tinggi ini, diharapkan benih akan tumbuh lebih montok.
Bila diinginkan, benih - benih tambakan yang berumur 2 (dua) bulan sudah dapat kita pasarkan. beberapa ekor yang memiliki warna dan pertumbuhan istemewa, dapat kita sisihkan untuk dipelihara sebagai calon induk yang istimewa nantinya.



© 2011 by Nirwana Aquarium


Sumber : Suara Karya ( 26 Agustus 1992 ), Dok Trubus.