Tampilkan postingan dengan label Cichlidae. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cichlidae. Tampilkan semua postingan

2011/05/28

Memijahkan Oscar Di Akuarium

Ikan oscar, yang memiliki pesona warna tubuh eksotik bagai batik, biasanya dipijahkan di bak semen (kolam) yang berukuran lumayan luas.

Akuarium ditutup koran
Induk oscar yang akan dipijahkan di akuarium, tentu saja harus induk idaman yang sudah lolos dari berbagai macam seleksi. Kriteria induk idaman yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah dari pasangan ideal, sudah cukup umur, tidak ada cacat, dan yang utama kedua induk sudah matang kelamin.

Untuk akuariumnya, digunakan yang berukuran 100 X 50 X 50 cm. Sebelum diisi air, akuarium dibersihkan dan dikeringkan beberapa hari. Untuk memberikan suasana aman, dan sedikit remang - remang, dinding sekeliling akuarium sengaja ditutup rapat bagian luarnya dengan kertas koran. Untuk subtrat penempel telur, bisa memakai sebuah ubin tegel berukuran 20 X 20 cm, yang diletakkan di dasar akuarium. Ubin tegel ini berfungsi sebagai "ranjang pengantin". Sebelumnya perlu disikat bersih agar terbebas dari segala kotoran.

Air di akuarium, kedalamannya cukup 25 - 35 cm. Suhu air juga diatur berkisar antara 25 - 26 derajat Celcius.

Bila semuanya sudah siap, induk oscar ditangkap menggunakan serokan, kemudian dimasukkan secara perlahan ke dalam akuarium yang sudah diservis menjadi kamar pengantin. Selang sehari kemudian, biasanya (dini hari) akan terlihat kumpulan telur Oscar di atas ubin tegel.

Segera setelah terlihat kumpulan telur Oscar, pasangan induk sebaiknya dipindahkan ke tempat lain. Di tempat tersebut, jangan lupa untuk memberikan pakan yang bergizi atas jerih payahnya semalam, misalnya berupa udang segar atau pun cacing tanah.

Telur - telur hasil pemijahan, tetap dibiarkan di dalam akuarium untuk ditetaskan. Selama masa penetasan ini, perlu dimasukkan selang aerator yang dipasangi batu aerasi (air stone) untuk mensuplai persediaan oksigen. Bila tak ada aral melintang, menjelang 2 hari kemudian, biasanya mulai terlihat anak - anak Oscar yang berukuran lembut dan berenang naik - turun.

Merawat benih
Mulai hari ke - 4, benih oscar biasanya sudah mulai berenang bebas. Pada saat ini, berikan makanan berupa kutu air (daphnia) yang telah disaring. Dua minggu kemudian, penjarangan oscar sudah mulai dilakukan. Caranya, benih dipindahkan ke tempat yang lebih luas (misalnya, bak/kolam semen).

Ditempat barunya ini, diusahakan agar kondisi airnya sama dengan kondisi air akuarium tempat perawatan sebelumnya. Suplai oksigen melalui aerator tetap dilaksanakan dan mulai diperbesar kekuatannya.

Dari sepasang induk Oscar yang dipijahkan di akuarium, biasanya dapat dihasilkan 1.000 - 1.500 ekor benih ikan Oscar.


2011/05/18

Uaru amphyacanthoides



Uaru amphyacanthoides berasal dari sungai Amazon, Brasil masuk ke Indonesia pada awal tahun 1980. Ikan dari famili Cichlidae ini panjang tubuhnya dapat mencapai 25 cm. Warna kulitnya kuning kecoklatan, dengan sapuan warna hitam terlukis mulai dari pangkal ekor hingga belakang insang. Matanya berhiaskan garis merah dan kuning yang melingkari pupil hitamnya. Kombinasi warna tubuh itu semakin menonjolkan penampilannya yang anggun. Kalau berenang bersama - sama, mereka selalu membentuk formasi yang rapih. Kalu tiba - tiba ada mangsa, dengan serentak mereka menyergapnya seperti gerombolan orang yang sedang lari marathon !






Kondisi air harus baik
Cara memelihara ikan Uaru relatif mudah. Di samping akuarium, filter air, serta aerator diperlukan juga air bersih dan pemberian pakan yang teratur. Sepasang ikan Uaru berukuran 25 cm yang dipelihara dalam akuarium, memerlukan air sebanyak 300 liter dengan pH 7. Selain itu, air akuarium harus selalu jernih dan bersih.
Kondisi air yang jernih dan bersih pun ternyata masih kurang lengkap. Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan yaitu suhu air. Si kecil Uaru ( yang ukurannya masih 1 inch ), membutuhkan air bersuhu 28 derajat Celcius untuk tetap dapat bertahan hidup, karena Uaru tidak tahan terhadap air yang dingin. Oleh karena itu untuk amannya, akuarium perlu dipasangi heater ( pemanas air akuarium ).
Ikan Uaru yang telah dewasa memerlukan air bersuhu 24 - 26 derajat Celcius.
Agar airnya selalu bersih, selain diberi filter, dasar akuarium juga perlu diberi kerikil ( batu kecil - kecil ). Idealnya, dalam setiap akuarium dipasangi juga satu atau dua aerator. Akan lebih baik lagi, bila air akuarium diganti setiap 4 hari sekali.
Young Uaru
Makanannya tidak susah
Di alam aslinya, Uaru mempunyai kegemaran makan tumbuhan serta larva maupun cacing. Namun, setelah ia berada di akuarium, makanan yang dilahapnya dapat diatur. Ia dapat diberikan makanan berupa udang kaleng dan cacing sutera (tubifex). Ikan Uaru yang masih kecil yang panjangnya masih 2 inch, diberi makanan berupa cacing sutera. sedangkan yang sudah dewasa diberi makanan udang kaleng. Makanan diberikan pada pagi hari dan sore menjelang petang.

Penyakit dan pengobatannya
Ikan Uaru mudah terjangkit penyakit velvet. Penyakit ini biasa menyerang bagian siripnya. Kalau Uaru yang dipelihara siripnya bercak merah, berarti ia sudah terserang penyakit velvet. Jalan keluarnya, Uaru yang sakit harus cepat - cepat dipisahkan dari Uaru lainnya yang sehat. Uaru yang sedang sakit ini lalu dimasukkan ke dalam akuarium tersendiri, agar ikan - ikan lain tidak tertulari penyakit.
Air untuk ikan Uaru yang sakit harus dicampuri obat pemberantas penyakit velvet ini, berupa pomade dan blitzich. Keduanya dicampur menjadi satu dengan tambahan garam dapur. Akuarium ukuran 80 X 60 X 65 cm dengan air sebanyak 300 liter memerlukan 1 (satu) sendok teh pomade, 50 gram garam dapur, dan 3 tetes blitzich. Sedangkan akuarium yang dulu pernah ditempati si ikan yang sedang sakit itu, yang sekarang masih dihuni ikan - ikan lain yang masih sehat, perlu pula diberi campuran obat yang sama dengan komposisi serupa. Air yang mengandung obat harus dikuras setiap dua hari sekali, lalu diganti air bersih yang juga telah dicampuri obat - obatan. Pengobatan dilakukan sampai bercak merah tidak lagi tampak di sirip Uaru. Sedangkan akuarium yang ditempati ikan yang sehat cukup dikuras dan diganti airnya dalam 5 hari.










Sumber : Trubus ( Pebruari 1990 )

2011/05/16

Cichlasoma Synspilum

Cichlasoma Synspilum masih termasuk famili Cichlidae.  Ciri khasnya, kepalanya nonong, ikan ini berasal dari sungai Rio Usunacinta, Guatemala - Amerika Latin. Warna merah jambu mengguyur bagian kepala, wajah hingga sirip depan bagian atas, berlanjut terus ke belakang insangnya sampai ke bagian belakang tubuhnya. Dibagian sirip atas dan ekornya, warna merah jambu itu bercampur kuning keemasan dan bercak hitam.
Corak warnanya itu akan tampak sangat cemerlang jika ia sudah berukuran sekitar 20 cm.
Jika hendak dipelihara dalam akuarium, Cichlasoma synspilum memerlukan air ber-pH 7 dengan suhu 22 - 30 derajat Celcius. Karena ia menghendaki air yang bersih, maka airnya harus diganti 5 hari sekali. Air yang cocok untuk Cichlasoma synspilum ini adalah air sumur yang belum tercemar. Akuarium untuk Cichlasoma synspilum sebaiknya dipasangi filter dan aerator. Selain itu, akuarium juga perlu diberi batu - batuan, untuk menyerap kotoran ikan maupun sisa - sisa makanannya. Dengan adanya filter, kotoran yang mengambang di permukaan air akan tersedot ke dalam tabung filter. Sementara aerator akan memasok oksigen ke dalam air akuarium.
Di alam aslinya, ia senang memakan tumbuhan, larva, maupun ikan - ikan kecil. Akan tetapi, Cichlasoma synspilum yang dipelihara dalam akuarium bisa diberi pakan khusus kalengan, ikan mas kecil, udang, cacing sutera (tubifex), bahkan sayuran.
Cichlasoma synspilum sangat aktif bergerak, meskipun hanya pelan - pelan saja. sebenarnya ia termasuk dalam jajaran ikan yang agresif, dan gemar sekali memangsa ikan lain yang lebih kecil. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibiarkan hidup seakuarium dengan ikan lain yang ukurannya lebih kecil.
Pertumbuhannya amat lambat, untuk mencapai panjang badan 20 cm memerlukan waktu 2,5 tahun, meskipun ia sudah diberi pakan yang cukup.








Sumber : Trubus, Mei 1990

2011/05/14

Frontosa, Ikan Hias Bertampang Galak Tapi Pendamai

Frontosa, meski berasal dari Afrika, namun telah besar dan beranak - pinak di Indonesia. Kalau lihat wajahnya pasti yang muncul adalah kesan galak. Padahal frontosa justru sebaliknya. Ikan ini termasuk pendamai. Ia berasal dari danau Tanganyika, Afrika. Bentuk kepalanya tergolong unik, karena jidatnya menyembul kedepan hampir sejajar dengan moncong. Frontosa yang mempunyai nama latin Cyphotilapia frontosa merupakan ikan hias air tawar dari family Cichlidae.




Mengerami di mulut
Pada dasarnya, mengawinkan ikan Cichlidae seperti frontosa dalam beberapa hal sama dengan rekan - rekannya yang lain, biasanya terletak pada hal - hal yang spesifik untuk masing - masing jenis. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana kita saja dalam menekuni kegiatan mengawinkan ikan tersebut.
Salah satu sifat yang berkaitan dengan sistem reproduksi frontosa adalah kebiasaannya dari induk betinanya, yaitu mengerami telur di mulut selama beberapa hari. Kemudian bila telah mendekati waktu menetas, telur - telur itu diletakkan pada tempat yang terlindung sampai akhirnya menetas disitu. Biasanya dipilih celah - celah batu atau tempat - tempat yang berongga seperti gua.
Ikan yang bersifat mengerami telur di mulut, umumnya membutuhkan tempat memijah yang tenang. Jauh dari kebisingan, apalagi gangguan yang mengejutkan. Bila ia kaget karena dikejutkan, sementara ia sedang mengerami telur, maka semua telur yang ada di mulut akan dimuntahkan. Jika sudah demikian, telur - telur tersebut tidak bisa diharapkan menetas. Karena masa inkubasinya tidak tercapai. Oleh sebab itu, faktor ketenangan dalam pemijahan frontosa, penting sekali diperhatikan.
Faktor lain yang tak kalah penting dalam mengawinkan frontosa adalah menentukan jantan - betina yang siap pijah. Seperti halnya ikan hias lain yang tergolong sulit dalam menentukan jantan - betina, maka bisa dicoba dengan cara memelihara beberapa ekor frontosa dewasa dalam sebuah akuarium. Secara naluri, mereka kan memilih sendiri pasangan yang cocok. Jika sudah terlihat ada tang berpasangan, dapatlah dipastikan bahwa itu adalah jodoh mereka.
Menurut Dr. Axelrod, dalam bukunya " Mini Atlas Of Freshwater Aquarium Fishes", sebuah akuarium kapasitas 400 liter aiar adalah merupakan tempat yang ideal bagi berlangsungnya pemijahan frontosa. Dasar akuarium diberi batu - batu yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk celah - celah (rongga). Untuk medianya, ia perlu air yang agak basa dengan pH 8,3 dan kesadahan 394 ppm. Suhu, sehari - hari mereka cocok pada 22 - 28 derajat Celcius. Tetapi untuk kawin mereka hanya butuh 27 derajat Celcius.
Jika semua syarat yang dikehendaki frontosa telah terpenuhi, maka tinggal menunggu saja "lahir" anak - anak mereka. Induk frontosa bukan hanya mengerami telur di mulut, tapi anak - anaknya yang masih kecil pun bila terancam bahaya, suka di sedot ke dalam mulutnya.
Untuk mengetahui apakah anaknya sudah lahir atau belum, kita perlu secara periodik mengontrol tempat pemijahannya. Bila terlihat ada satu - dua larva diantara mereka, itu pertanda mereka telah selesai memijah. Urusan mengasuh anak, cukup diserahkan pada yang betina saja. Sang jantan bisa dipindah ketempat lainnya.
Sejak ditempatklan dalam akuarium pemijahan, frekwensi pemberian makan kepada induk sudah mulai menurun, bahkan telah dihentikan sama sekali. Ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terganggu dan bisa lebih konsentrasi untuk kawin. Karena itu, begitu mereka selesai memijah, pemberian pakan perlu lebih diintensifkan. Meskipun ia cocok dengan pakan buatan (Dry, package food) khusus bagi induk yang selesai memijah, dianjurkan memberi makanan segar dari jenis pakan hidup (makanan alami) berupa cacing sutera (tubifex).

Garis Enam
Bila kita berhasil mengawinkan frontosa dengan mengacu pada petunjuk seperti yang dipaparkan diatas, ini tentu suatu prestasi yang cukup membanggakan. Mengingat tingkat kesulitannya hampir sama dengan mengawinkan ikan discus. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara memelihara ikan ini sampai ukuran layak jual.
Frontosa secara morfologi bentuknya tidak berbeda dengan kebanyakan ikan siklid seperti Ramirezi atau ikan Nila dan Mujair. Kecuali bentuk kepala dan ornamen di badannya. Dari segi warna sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tubuhnya terdiri dari warna hitam dan putih yang berbentuk garis - garis melintang. Tetapi ternyata, jumlah garis (stripe) hitam itulah yang menentukan tinggi rendahnya harga frontosa.
Menurut beberapa pedagang ikan hias, frontosa yang banyak dicari dan diminati adalah frontosa yang memiliki garis hitam dibadannya sebanyak 6 (enam) buah, jika dihitung dari ekor sampai kepala atau sebaliknya.




Sumber : Suara Karya (12 Februari 1992), Dok. Trubus.

2011/04/28

Niasa (Pseudotropheus auratus)

Masih ingat ikan Niasa (Pseudtropheus auratus), kerabat ikan nila (Tilapia nilotica) yang bertubuh elok warna warni itu ? Niasa memang tidak asing lagi bagi para pecinta ataupun peternak ikan hias, karena ikan dari danau Malawi, Afrika, yang badannya loreng kuning-biru-putih ini memang cantik.
Setidaknya ada 3 jenis niasa. Namun yang umum dikenal adalah Niasa biru dan Niasa kuning. Ikan jantan niasa kuning kalau sudah tua berubah warna jadi biru.
Niasa yang nama umumnya "Malawi Golden Cichlid", termasuk family Cichlidae.
Kebiasaannya mengerami keturunannya (telur maupun anaknya) didalam mult, seperti ikan lainnya. Biasanya ikan Niasa butuh waktu 4 minggu untuk mengerami telurnya, tapi bisa diupayakan menjadi hanya 2 minggu.

Betinanya jauh lebih banyak
Pemijahan ikan Niasa akan berhasil jika induk betina yang hendak dikawinkan sudah matang kelamin (umur 6 - 7 bulan) dengan ukuran sekitar 4,5 cm. Induk jantannya lebih langsing, bagian dekat sirip anus berbintik kuning. Sedangkan induk betinanya lebih gemuk, tanpa bintik kuning di anusnya.
Memijahkannya secara massal, ke dalam bak semen ukuran 1,5 X 3 meter dengan kedalaman 0,4 meter dimasukkan induk betina sebanyak 135 ekor, dan ikan jantan 15 ekor. Jumlah betina yang mencolok ini dimaksudkan agar lebih banyak yang terlibat mengerami telur. Jadi lebih efektif dan efisien. Jantan yang sudah memijah dengan satu betina, bisa siap lagi memijah dengan betina lainnya, sementara betina yang pertama mengerami telurnya.

Harus dipencet supaya keluar
Tempat pemijahan yang dipakai, selain bak semen untuk pemijahan massal, juga akuarium ukuran 40 X 40 X 80 cm untuk betina yang mengeram, bak plastik ukuran 20 X 25 cm, tinggi 10 cm untuk penetasan telur, dan akuarium perawatan burayak ukuran 40 X 40 X 80 cm. Sebelum digunakan, semua media pemijahan harus bersih dari lumpur dan bibit penyakit. Setelah disikat (limut yang menempel di dinding bak disisakan sedikit), tempat pemijahan dikeringkan dulu sebelum diisi air.
Air yang dipakai menggunakan air sumur yang telah didiamkan sehari semalam. Maksudnya agar CO2 nya tidak terlalu banyak. CO2 yang terlalu banyak bisa menyebabkan ikan mati. Untuk menghilangkan CO2 ini bisa dibantu dengan aerator. Suhu airnya berkisar antara 28 - 30 derajat Celcius dan pH netral.
Induk betina sebanyak 135 ekor dan induk jantan 15 ekor yang sudah dipilih dimasukkan ke dalam bak semen yang sudah disiapkan. Setiap pagi dan sore ikan diberi makan jentik nyamuk, air diganti setiap hari, dengan menyedot bagian dasar yang kotor sekitar 1/3 bagian dan menggantinya dengan air yang sudah diendapkan sampai ketinggian semula.
Semunggu sekali, induk betina yang sudah mengeram (tandanya : mulutnya menggelembung, lebih besar dibanding induk yang lain), dipindah ke akuarium pengeraman yang sama mutu airnya. Untuk lebih memastikan ada tidaknya telur, biasanya induk dipencet mulutnya untuk diperiksa.
Ke dalam akuarium pengeraman ini diisikan paling banyak 30 ekor betina saja. Mereka tidak perlu diberi makan, hanya airnya harus disedot kotorannya setiap hari dan ditambah air baru yang bersih.
Setelah seminggu di dalam akuarium, induk ditangkap. Pipinya ditekan, untuk mengeluarkan benihnya yang sudah ber-ekor. Benih ini dimasukkan ke dalam bak plastik berisi air 3/4 bagian. Setiap bak mampu menampung 500 - 1.000 ekor benih. Bak diletakkan ditempat teduh dan diberi aerator secukupnya, jangan terlalu kencang.
Seminggu setelah dimasukkan ke dalam bak plastik, benih yang sudah mulai bisa berenang dipindah ke dalam akuarium perawatan burayak. Burayak sudah bisa diberi makan, jika sudah bisa berenang. Sementara itu, induknya dikembalikan lagi ke kolam pemijahan massal.

Keuntungannya
Dengan cara ini didapat banyak keuntungan. Pertama, induk betinanya bisa lebih efektif berproduksi. Karena aktifitas makannya tidak terganggu dengan kegiatan mengeram yang terlalu lama, bulan berikutnya induk sudah bisa mengeram kembali. Kedua, induk bisa dipakai dalam tempo yang lama, yaitu 12 kali masa pemijahan atau setahun terus menerus. Setelah setahun, biasanya induk diafkir untuk menghemat makanan dan lahan. Cara ini lebih menguntungkan dibanding pemijahan biasa yang membutuhkan masa tenggang 2 - 2,5 bulan.



© 2011 by Nirwana Aquarium



2011/04/27

Meeki (Cichlasoma meeki), Ikan Hias Bergincu


Sosoknya mirip ikan nila, akan tetapi bentuk tubuhnya lebih padat. Warnanya violet dengan strip - strip hitam yang menyilang badan. Dagu dan mulutnya merah menyala.



Mulutnya bergincu
Si Cantik yang indah ini dikenal dengan nama ilmiah Cichlasoma meeki. Asli berasal dari Amerika Tengah, terutama dari perairan di daerah Guatemala dan Yucatan. Ia dikenal di Indonesia sejak tahun 1937.
Kalau orang Inggris menyebutnya Firemouth cichlid, maka penggemar di Indonesia lebih suka menyebutnya Soma meeki atau ikan bergincu (karena bibirnya merah seperti orang pakai gincu).
Matanya bulat dan biru jernih. Pangkal sirip punggung, ekor dan duburnya berwarna violet. Sedang siripnya sendiri biru dengan selaput tipis, kecuali ujung sirip punggung yang warnanya hijau.

Minta tempat bertelur
Ikan jantan dan betina mudah sekali dibedakan. Ikan betina lebih pipih dan lebih kecil daripada ikan jantan. Ujung sirip punggung dan ekor ikan betina memanjang seperti cambuk. Sebaliknya ikan jantan tidak demikian.
Ikan jantan bisa mencapai panjang 15 cm, sedang yang betina cuma 10 cm. Dalam akuarium, ikan ini menghendaki tempat yang lapang, dan gemar berada di dasar. Kalau beristirahat, senang sembunyi ditempat - tempat seperti gua. Gua - guaan ini bisa dibuat dari batu atau pot bunga yang dilubangi alasnya. Air akuarium harus jernih, dan pH-nya normal sekitar 7,2.
Ikan ini bisa dibiakkan dalam akuarium, tetapi tidak bisa dipaksakan. Dalam pemijahan, selain minta air yang jernih, juga tanaman air yang terbenam, seperti Hydrilla dan Ceratophyllum.
Air akuarium dibuat sedalam 35 cm. Didalamnya harus tersedia bahan peletak telur, berupa pot bunga yang berlubang alasnya. Pot ini ditaruh menidur pada dasar akuarium, tetapi sebelumnya harus disikat dan dijemur dipanas matahari, agar bersih.
Induk betina siap pijah panjangnya 7 cm, cirinya perut didekat anus sudah buncit. Induk jantan panjangnya 12,5 cm. Sebelum berpijah, ikan jantan sangat rajin mendekati dan mengikuti si betina, sampai kemudian berkejar - kejaran. Kalau betinanya sudah terlihat berdiam diri di lubang pot, pasangan jantannya segera membersihkan dasar pot dengan mengibas - ngibaskan sirip dadanya, sebagai tempat menaruh telur.


Anak dipelihara bersama
Telur yang keluar setelah berpijah, akan menetas 3 (tiga) hari kemudian. Dari sepasang induk ini bisa dihasilkan anak 800 - 1.000 ekor sekali menetas. Anak diasuh oleh kedua induknya sampai umur 3 minggu. Anak yang baru menetas tidak perlu diberi makan, karena masih mempunyai makanan cadangan berupa kuning telur diperutnya, tetapi setelah berusia 3 hari perlu diberi rotifera atau infusoria sampai umur 3 minggu.
Setelah berumur 3 minggu, anak ikan harus dipisah dan dibesarkan ditempat lain yang lebih luas (misalnya kolam pembesaran) agar pertumbuhannya lebih pesat. Jenis makanannya pun diganti dengan kutu air sampai berusia 2 bulan. Selanjutnya bisa diganti dengan cacing sutera atau tubifex.

2011/04/01

Memilih Pakan Pembentuk Warna dan Batikan Ikan Oskar

Pakan bagi ikan hias selain untuk memenuhi kebutuhan gizi untuk hidup dan tumbuh, juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan "pigmen" (zat warna), Menurut National Research Council, pigmen inilah yang digunakan ikan hias untuk membentuk dan mempercantik warna tubuhnya. Dan masing-masing ikan hias ternyata memerlukan pigmen tertentu untuk memperanggun penampilannya, tak terkecuali ikan oskar. Dibalik penampilan wajahnya yang seram, bentuk mulutnya yang menakutkan, ikan oskar ( Astronotus ocellatus cuvier) memiliki daya pikat tersendiri. Daya pikatnya terletak pada keindahan bercak-bercak kuning, jingga atau merah yang tersusun begitu indah dan membentuk semacam batikan pada tubuhnya. Karena nilai seni batikannya itu, oskar banyak digemari. Kemolekannya ditentukan oleh ukuran luasan batik dan intensitas (kecerahan) warna batikannya. Oskar mengalami perubahan dan perkembangan warna yang dipengaruhi oleh ketersediaan pigmen di dalam tubuhnya sejalan dengan perubahan umurnya. Ikan oskar yang berumur 2 bulan warnanya masih buram. Bertambahnya umur satu bulan kemudian, baru-lah timbul warna cerah dibagian leher. dan 2 bulan berikutnya, selain dibagian leher, pada bagian tubuh lainnya juga mulai berwarna cerah. Perkembangan warna pada ikan oskar dapat dirangsang dengan pemberian pakan yang banyak mengandung pigmen. Hal ini memberikan kemungkinan ditemukannya pakan yang dapat memacu perkembangan warna tersebut.

MACAM DAN SUMBER PIGMEN
Pigment adalah zat yang memberikan kualitas warna tertentu pada suatu bahan (ikan), sehingga tampak oleh mata bahwa benda (ikan) tersebut berwarna. Pigmen pada ikan tersimpan dalam tubuhnya dengan jumlah yang relatif tetap, dan lebih banyak tersimpan pada sisik, kulit/kerangka luar, bulu dan bagian lain dari tubuh sebelah luar. Ada 2 jenis pigment yang sangat berperan pada pewarnaan ikan, yakni " Karotenoid dan Melanin". Karotenoid, inilah yang menimbulkan warna kuning, jingga tua/orange dan merah pada sisik, kulit/rangka luar pada hewan-hewan aquatic termasuk ikan. Sedangkan Melanin, adalah pigmen yang menimbulkan warna coklat sampai hitam. Terkadang, melanin juga dapat menimbulkan warna kuning atau merah. Pigmen melanin terutama berperan dalam perubahan warna ikan karena pengaruh lingkungan atau internal dari dalam tubuh ikan sendiri. Untuk keadaan normal ( tidak ada gangguan lingkungan luar dan internal ) pigmen karotenoid-lah yang paling menentukan mutu warna ikan. Namun sayangnya ikan tidak bisa men-sintesa (menyusun) jenis pigmen ini. Sehingga kebutuhannya harus dipenuhi dari luar yakni dari pakan yang diberikan. Sumber pigmen yang baik adalah pakan yang mengandung karetenoid jenis " xanthophyll".  Berdasarkan penelitian National Research Council pada tahun 1983, pakan yang mengandung 20 - 25 mg xanthophyll per kilogram bobot kering pakan sudah dapat memberikan pewarnaan (pigmentasi) yang baik bagi ikan-ikan hias. Mutu pewarnaan akan menjadi lebih indah lagi bila pakannya mengandung 50 -60 mg xanthophyll per kilogram bobot kering pakan.
Xanthophyll jenisnya bermacam-macam. Xanthopyll yang paling berperan dalam pewarnaan ikan adalah pigmen kuning lutein, zeaxanthin dan xanthin. Jenis xanthopyll yang dibutuhkan ikan tergantung dari spesies ikan dan mutu pewarnaan yang diinginkan manusia. Karena masing-masing ikan memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengubah jenis karotenoid yang dicerna menjadi jenis karotenoid yang diperlukan.

PAKAN
Oskar tergolong ikan karnivora (pemakan daging). Banyak jenis jasad pakan yang bisa dimakan oskar, antara lain , cacing-cacingan, udang-udangan, berbagai macam serangga, dan ikan-ikan kecil. Hobbies biasa memberi makan oskar dengan apa saja. Bertemu kecoak di kamar mandi, dikejar, ditangkap dan dijadikan pakan untuk oskar. Asal ikan itu mau makan dan hobies dapat menikmati keindahan cara oskar melahap mangsanya yang begitu enak ditonton.
Namun untuk memperoleh kualitas warna  dan batikan oskar yang baik tidak cukup hanya asal kenyang. Melainkan yang lebih utama adalah memperhatikan kandungan pigmen pakan yang diberikan.
Pakan yang mudah diperoleh di pasaran atau di toko-toko akuarium disamping pakan buatan, adalah udang rebon dan cacing rambut. Ternyata udang rebon dan cacing rambut lebih bisa memenuhi keperluan pigmen bagi ikan hias, termasuk oskar. Namun kandungan pigmen pada udang rebon jauh lebih tinggi dibanding cacing rambut. Hasil perbandingan pengaruh pakan udang rebon (Acetes. sp.), cacing rambut (Tubifex), dan campuran keduanya membuktikan bahwa pemberian pakan udang rebon-lah yang menghasilkan warna batikan maksimal yang cenderung lebih jingga atau merah.

Kandungan pigmen xanthophyll udang rebon dan cacing rambut :
______________________________________________________
Pakan                                 Kandungan                
                                       (mg/kg pakan )
______________________________________________________
Udang rebon                         78,72
Cacing rambut                 sedikit/tidak
______________________________________________________

Dan berdasarkan hasil uji pengamatan mata (organoleptik) dengan udang rebon mutu warna batikan dan batikan oskar mendapat nilai 8,1. Sedangkan pemberian pakan campuran udang rebon dan cacing rambut kepada ikan oskar hanya mampu mendapat nilai organoleptik 4,3 ( Pengujian dilakukan oleh : Ester Nuki URS, tahun 1992 ).
Kelebihan lain pemberian pakan udang rebon untuk oskar adalah mampu menghasilkan luasan batikan yang berwarna jingga muda kemerah-merahan relatif lebih luas dibandingkan pemberian makanan pakan campuran.

Ikan Oskar ( Astronotus ocellatus ), Pemeliharaan dan Budidayanya

Salah satu jenis ikan hias air tawar yang digemari oleh konsumen baik didalam negeri maupun luar negeri adalah ikan oskar. Selain karena penampilannya yang menarik ikan oskar juga termasuk yang tidak sulit pemeliharaannya. Berasal dari sungai-sungai di Amerika Selatan, ikan oskar mempunyai bentuk hampir sama dengan Gurame, agak lamban geraknya dan tenang, tetapi mempunyai kombinasi warna yang menarik. Warna dasarnya coklat tua atau coklat muda dan sedikit kuning bercampur merah tua. Di pangkal ekornya terdapat warna merah tua yang menutupi sepertiga badannya dan tampak seperti lukisan, sehingga oskar tampak anggun.
Disamping itu ada jenis oskar lainnya, yaitu oskar albino. Tubuhnya berwarna krem pucat seperti penderita albino dan mempunyai bercak-bercak merah orange di badannya. Bentuk tubuh dan perilaku oskar albino tidak berbeda dengan oskar lainnya.
Sebagaimana layaknya ikan oskar mempunyai kelebihan inteligensia yang cukup cerdas. Dia akan berenang ke tepi akuarium bila pemiliknya memberi tanda dengan tangan. Selain itu sifatnya setia dengan pasangannya masing-masing dan suka bergerombol. Karena sifatnya sosial, maka dalam satu akuarium jumlah ikan ini bisa dimasukkan 6 - 8 ekor. Dan akuarium yang digunakan berukuran besar, paling tidak panjangnya 1 - 1,2 meter. Ini mengingat ikan oskar sifatnya yang rakus makan, sehingga sering mengeluarkan kotoran, dan mengakibatkan air dalam akuarium cepat kotor. Kalau akuariumnya besar, tidak perlu terlalu sering diganti airnya. Untuk ukuran akuarium yang paling kecil 60 X 40 X 40 cm untuk per pasang.

MEMELIHARA IKAN OSKAR
Di alam aslinya oskar hidup bergerombol di air yang agak tenang, terlindung dan dalam. Yang disukainya adalah sungai yang dasarnya berpasir batu, air yang jernih, dan di sekelilingnya terdapat akar-akar pohon atau batang pohon yang tumbang dan terbenam di sungai. Tersebar di daerah luas di Amerika Selatan. Ikan-ikan ini terdapat di Amazone, Venezuela, Guyana, Chili, Argentina, dan Paraguay. Temperatur air yang dibutuhkan antara 72 - 82 derajat Fahrenheit, sedangkan untuk penetasan telurnya membutuhkan suhu 78 derajat Fahrenheit. Air yang disenaginya adalah yang jernih dan mengalir tanpa ditutupi oleh tanaman. Karenanya kalau memelihara ikan oskar harus memperhatikan faktor oksigen dan suhu air agar didapatkan ikan yang baik dan sehat. Sebaiknya memelihara ikan oskar pada akuarium atau bak semen agar mudah menjaga faktor oksigen maupun suhu airnya. Ikan ini termasuk jenis ikan Karnivora atau pemangsa. Untuk itu dianjurkan supaya tidak dipelihara bersama-sama dengan ikan lain dalam satu akuarium atau bak., sebab kalau tidak akan habis digasak olehnya.
Pakan sebaiknya diberikan makanan hidup saja seperti  udang dan anak ikan mas. Menurut pengalaman para peternak, apabila oskar diberi makanan hidup seperti udang hidup, warna sisiknya menjadi terang terutama warna merahnya.

JANTAN DAN BETINA
Memilih ikan oskar jantan dan betina bagi para peternak ikan hias yang belum berpengalaman merupakan persoalan yang agak sulit. Bagi yang sudah lamapun, kadang-kadang bisa meleset dalam menentukan jenis kelamin ikan ini khususnya pada oskar yang masih muda. Menentukan jenis kelamin oskar, kalau kita sudah tahu rahasianya tidaklah begitu sulit. Pedomannya, ikan jantan dapat diketahui dari sirip-siripnya yang lebih besar atau agak melebar, sedangkan pada ikan betina sirip-sirip ini bentuknya membundar. Dalam hal warna, perbedaan ini juga bisa terjadi, pada oskar jantan warnanya lebih terang.
Kalau kita ingin mendapatkan perbedaan yang meyakinkan tentang jenis kelaminnya, pertama, keluarkan ikan itu dari dalam bak atau akuarium dengan menggunakan serokan ikan. Peganglah tubuhnya erat-erat mulai dari bagian belakang kepala, terus dipijit sampai berakhir dekat anus atau dubur, jangan terlalu keras memijitnya. Kalau terlihat genital papilae atau alat kelaminnya keluar dan bentuknya meruncing, sudah pasti ia berkelamin jantan. Sedangkan pada oskar betina, alat kelaminnya agak pendek dan bentuknya pun tumpul.






MEMIJAHKAN OSKAR
Setelah mengetahui tingkah laku dan kebiasaan oskar serta perbedaan kelaminnya, barulah kita bisa membudidayakannya. Ikan oskar adalah salah satu hewan air yang menjunjung tinggi nilai-nilai "kesetiaan" (tentunya kesetian dalam dunia percintaan ikan). Karena itu kalau hendak menjodohkan pasangan ini, sebaiknya dipelihara sejak masih remaja. Kalau kita sengaja menjodohkannya pada usia dewasa, akan sulit ia hidup berdampingan. Kalaupun bisa, memakan waktu agak lama. Hendaknya kita pelihara lebih dari 6 ekor untuk setiap bak, agar ikan-ikan ini dapat mencari dan memilih pasangan sendiri. Ikan oskar bisa dikatakan matang kelamin pada umur 8 - 10 bulan. 
Kalau kita rajin mengintip ikan-ikan ini yang sedang berpacaran, ditandai dengan selalu berjalan beriring bersama. Dan biasanya mereka memilih tempat yang romantis di sudut-sudut bak. Kalau dia suka bermesraan seperti ini, barulah pasangan ini kita pindahkan pada tempat khusus yang sudah kita sediakan untuk berbulan madu.
Kebersihan bak harus diperhatikan dengan baik. Bersihkan kotoran yang ada di dasar bak ataupun akuarium, karena kotoran ini dapat menimbulkan amonia yang tidak disenangi Oscar. Menggunakan sirkulasi yang airnya telah disaring akan lebih baik dan tidak banyak memerlukan tenaga. SElain itu pergantian air juga mutlak kita lakukan. Tetapi jangan mengganti air secara total. Cukuplah sebagian saja yang dibuang dan sebanyak itu pula air yang baru kita masukkan.
Akibat pergantian air, ikan yang telah matang kelamin akan terangsang untuk melakukan pemijahan. Pada saat melakukan percumbuan, sang jantan memamerkan kegagahannya kepada sang primadona dengan mengibas-ngibaskan ekornya sambil merentangkan siripnya, dan rahang agak dikuak-an atau digelembungkan seolah-olah ingin mengajak adu kekuatan fisik (berkelahi). Untunglah tindakan ini tidak membahayakan sang kekasih.
Sebelum betina mengeluarkan telur, kedua sejoli membersihkan tempat bertelur dengan mengais-ngais dasar akuarium atau bak. Setelah melakukan tugas ini barulah telur-telur itu dikeluarkan sang betina, kemudian sang jantan menghampiri untuk membuahi telur-telur itu. Jumlah telur yang dikeluarkan bisa mencapai 2.000 butir. Telur oskar menempel pada subtrat. Untuk penempelan telurnya sebaiknya kita beri lempengan batu untuk tempat meletakkan telurnya.
Telur-telur dijaga dan dirawat bersama-sama, tapi sang calon ibu-lah yang selalu menunggu, sedangkan calon bapak berpatroli di sekelilingnya menjaga kemungkinan serangan pihak lawan yang ingin memangsa telur-telurnya. Oskar jantan kelihatan agak agresif. Kadang-kadang sang pemiliknya pun tak luput dari serangan pada waktu ingin memberinya makan.
Telur oskar  akan menetas setelah 3 hari saat peneluran.. Bayi-bayi oskar kelihatan dengan perut terbalik keatas. Si buyung ini sudah dapat berenang disekitar orang tua mereka. Pada usia 3 hari anak-anak oskar ini sudah boleh diberi makan berupa infusoria atau phytoplankton. Anak-anak oskar ini sudah pandai berenang dengan bebas pada usia 8 hari dan makanan yang diberikan diganti dengan dapnia atau kutu air.
Telur-telur oskar juga bisa ditetaskan dalam bak atau akuarium terpisah dari induknya dengan memindahkan lempengan batu yang berisi telur. Dan diberikan tambahan dengan memakai pompa udara (aerator) yang tidak terlalu besar gelembung-gelembung udaranya. Pada umur kira-kira 1 bulan, anak oskar bisa diberikan cacing rambut atau tubifex.



2011/03/14

Severum, punya daerah kekuasaan


Ketika masih muda, ikan Severum mirip dengan anak-anak ikan Discus. Bagi pemula terkadang sering dibuat bingung. Yang belum begitu kenal, mungkin percaya saja, SEverum muda dibilang anak Discus. Bentuk badan mereka memang sama. Pipih kesamping ( Compressed ). Demikian pula familinya, mereka sama-sama berasal dari satu keluarga, yakni Cichlidae. Tapi dari segi penampilan, karakter dan harga jelas berbeda. 
Severum berasal dari kata severe, yang berarti keras atau hebat. Bahkan di luar negeri, ikan yang berasal dari sungai Amazone ini lebih populer dengan nama " Ikan Narapidana " ( Convict Fish ). Lalu mengapa ia dijuluki demikian ? Inilah ceritanya : Ketika masih muda, ikan ini bersifat pendamai, senang hidup berdampingan sesamanya. Tapi setelah dewasa, ia ogah didekati temannya, sukanya sendirian, seperti pesakitan. Kalau ada yang berani dekat, maunya berantem saja. Lebih-lebih menjelang kawin, sifatnya sangat agresif. Kalau disekitar lingkungannya ada tanaman air, semua dibuat berantakan. Sifat lain yang tergolong ekstrem dari Severum adalah teritorialis. Maksudnya ia mempunyai sifat ingin menguasai suatu wilayah dengan radius tertentu dilingkungan hidupnya. Batas teritorial itu tidak boleh dilanggar oleh ikan lain. Karena itu severum kurang tepat bila dalam pemeliharaan dicampur dengan jenis ikan hias lain. Warna dasar Severum merupakan kombinasi antara kuning dan coklat, dengan bagian perut agak cerah. Tetapi kadang-kadang terlihat bervariasi. tergantung dari lingkungan/asal, suasana jiwanya ( mood ) dan umur.
Severum muda tubuhnya berwarna coklat muda, dengan sedikit garis vertikal. Setelah dewasa, terutama yang jantan, warnanya menjadi sedikit kehijau-hijauan. Sepanjang panggulnya berbintik-bintik merah kecoklatan. Malahan sekarang banyak dijumpai Severum albino ( seperti foto diatas ). Seluruh tubuhnya berwarna kuning keemasan dengan mata berwarna merah jambu. Baik yang albino maupun bukan, sama saja. Mereka bernama Cichlasoma (Heros) severum. Severum dapat mencapai panjang sekitar 20 cm. Air yang diinginkan sebagai media hidupnya adalah bersih ( jernih ) dan sedikit basa dengan temperatur 22 - 27 derajat Celcius. meskipun ia menerima hampir semua jenis makanan ( omnivora ), tapi lebih baik kalau Severum diberi makanan hidup alami, seperti cacing tanah atau daging ikan yang sudah dihancurkan.

Pemijahan
Pemijahan Severum bisa dilakukan didalam bak-bak semen atau akuarium. Supaya lebih gampang mengontrolnya, terutama pada saat penetasan telur, maka penggunaan akuarium ternyata memberikan hasil yang lebih baik. Berdasarkan pengelompokan cara-cara ikan hias memijah, Severum termasuk ikan yang meletakkan telurnya pada benda-benda yang terletak vertikal didalam air. Dari kebiasaan ini, oleh para pembudidaya ikan hias sering dipraktekkan dengan cara meletakkan potongan pipa paralon didalam akuarium pemijahan Severum. Karena Severum tergolong ikan siklid berukuran besar, maka ukuran tempat pemijahan nya pun harus disesuaikan. Untuk mengawinkan seekor jantan ukuran 15 cm dengan betina sepanjang 14 cm, biasa digunakan akuarium sebesar 75 X 32 X 32 cm. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar pemijahan Severum bisa berhasil dengan baik antara lain adalah induk dan kualitas air. Induk yang baik, umurnya telah mencapai 1 tahun dengan panjang minimal 12 - 15 cm. Ciri-ciri induk jantan yang telah dewasa ( matang ) adalah sirip-siripnya berwarna kecoklat-coklatan dan ditaburi oleh bintik-bintik merah dan biru. Sirip punggung dan sirip anusnya tumbuh memanjang sampai mencapai ujung sirip ekor. Sedangkan yang betina, selain warnanya lebih pucat, sirip-siripnya lebih pendek. Pemijahan biasanya berlangsung dalam air yang suhunya sekitar 25 derajat Celcius, dengan pH 7,0 - 7,2 dan kesadahan antara 150 - 180 ppm. Seekor induk betina yang baik, mampu menghasilkan telur sebanyak 1.000 butir lebih.
Setelah selesai memijah, induk jantannya dipindahkan saja ketempat lain. Sedangkan induk betina, dibiarkan saja tetap didalam akuarium supaya ia merawat telur dan anaknya bila telah menetas kelak.
Untuk mencegah agar telur tidak dimakan oleh sang induk, beri dia makanan berupa kutu air secukupnya. Disamping itu, hindari jangan terlalu banyak campur tangan kita terhadap induk dan telur-telurnya. Karena kalau banyak gangguan, bisa-bisa telurnya dimakan semua oleh induknya.
Selama proses penetasan jumlah oksigen perlu ditingkatkan. Untuk itu, maka didalam akuarium penetasan perlu dipasang aerator. Untuk menghindari telur dari serangan jamur, bisa ditreatment, caranya : teteskan Methylen blue 5% sebanyak 5 - 7 tetes kedalam akuarium yang berisi telur. Telur umumnya menetas setelah 2 - 3 hari. Setelah itu, larvanya sudah mulai bergerak-gerak. Baru setelah seminggu mereka terlihat berenang dengan bebas. Umur seminggu, benih sudah bisa diberi makan artemia atau rotifera. Baru setelah berumur 2 minggu, anak-anak Severum diberi makan kutu air saring. Minggu berikutnya, bisa dicoba dengan cacing sutera ( tubifex ).



Sumber : Suara Karya, tanggal 11Juni 1991. ( Dokumentasi Trubus ).