Black Ghost (Apterontus albifrons), berasal dari sungai Amazone dan Surinam. Ia dikenal orang sebagai "Si Setan Hitam". Sebutan itu diberikan karena tubuhnya berwarna hitam kusam (warna putih hanya melilit pada pangkal ekornya), sedangkan ia suka bersembunyi di tempat yang gelap pada waktu siang hari, dan baru melakukan aktivitas di malam hari. Ikan ini dikenal pula dengan julukan " Si Penari balet", lantaran gerakkannya yang maju mundur dan jungkir balik dengan amat lenturnya. Selain itu ada juga yang menyebutnya " Si Bulu Ayam", karena ketika bergerak membentuk sudut 90 derajat, tubuhnya bagaikan bulu ayam yang tegak berwarna hitam.
Setan yang baik
Meskipun panjang tubuhnya dapat mencapai 47 cm, dan punya julukan angker "Setan Hitam", namun kenyataannya ia bukan ikan yang ganas. Ia malah senang bersahabat. namun bukan berarti ia tidak dapat berkelahi atau marah. Ia sendiri tidak pernah memulai perkelahian. Karena itu, ikan ini cocok untuk penghias akuarium, karena tidak pernah usil terhadap ikan lain. Dan ia nampak begitu lucu saat bergerak ke belakang dan berjungkir balik. Namun demikian, sebaiknya Black Ghost tidak dicampur dalam satu akuarium dengan ikan yang bersifat pemangsa terhadap ikan lain. Ekor Black Gost yang selalu bergerak seringkali dianggap cacing. Maka sering terjadi ekornya buntung di makan ikan ganas. Namun ekornya itu akhirnya akan tumbuh kembali., persis cicak ! Black ghost cocok dicampur dengan ikan Russianensis atau ikan koki Black Moor.
Cara memelihara si setan hitam ini, cukup sederhana. dalam sehari cukup diberi makan 2 kali, pagi dan sore hari. Makannya tidak terlalu sulit, cacing merah (blood worm) mereka menerimanya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam merawat black ghost adalah air. Air yang dibutuhkan olehnya ini adalah air yang ber-pH 7, dan jernih. Maka sebaiknya air akuarium diganti setiap 5 hari sekali dengan memakai air tanah (sumur) yang sudah diendapkan terlebih dahulu selama 24 jam dengan aerator, atau air PAM yang telah diendapkan selama 3 hari.
Senang gelap
Selain diberi aerator, sebaiknya akuarium perlu juga dipasangi aksesories bila ingin memelihara black ghost. Fungsi aksesories disini, selain untuk memperindah suasana akuarium, juga sebagai tempat bersembunyinya si setan hitam ini pada waktu siang hari. Dan sebaiknya, hindarkanlah pemilihan aksesories yang mempunyai warna yang mencolok bagi ikan itu. Carilah kayu yang berwarna hitam seperti akar bakau, atau batu-batuan yang berwarna hitam. Warna terang atau cerah, tidak disukai oleh ikan ini, sebab black ghost penglihatannya tidak terlalu kuat untuk menahan sinar maupun warna - warna cerah, seperti warna merah dan kuning.
2011/06/09
2011/06/07
Flag-tailed (Prochilodus)
Ekor Flag-tailed lebar bergaris - garis seperti kibaran bendera. Kibasan ekornya makin indah karena berenangnya "kalem". Tapi kalau terusik, dia bisa meloncat setinggi lebih dari satu meter.
Ikan Prochilodus ada beberapa spesies, namun yang sering dijumpai di Indonesia hanya dua macam. Jenis yang warna dasar tubuhnya keemasan diberi nama Flag-tailed Prochilodus dengan nama ilmiah Prochilodus insignis. Sedangkan yang warna dasar tubuhnya keperakan dijuluki Silver Prochilodus (Prochilodus taeniurus). Keduanya termasuk famili Characidae. Di daerah asalnya Guyana, Inggris, dan Amazone bagian tengah, ikan ini terkenal sebagai "vegetarian". Hampir segala jenis sayuran disantapnya, bahkan bubur gandum pun dilahapnya.
Jenis yang keemasan lebih langka dijumpai di pasaran, dan warnanya lebih bagus daripada yang silver. Warna tubuh ikan berekor bendera ini sangay ceria, warna dasarnya keemasan, dengan sirip punggung, sirip perut, dan sirip dada dibalut warna merah. Keistimewaannya, ekornya yang lebar bercorak loreng kuning dan hitam, hingga kalau sedang menggerakkan ekornya kelihatan seperti kibaran bendera. Ukuran badannya bisa mencapai lebih dari 35 cm. Karena ukurannya bisa besar, penduduk di daerah asal ikan ini menangkapnya untuk dikonsumsi. Dia mulai dikenal sebagai ikan penghuni akuarium sejak 1910, dipelopori oleh hobiis ikan dari Jerman.
Ikan Prochilodus juga suka damai sehingga bisa dicampur dengan jenis lain, baik ukuran besar maupun kecil.
Perawatannya
Ikan ini sangat mudah dirawat. Penggantian air dilakukan 2 minggu sekali dengan membuang air separonya. Makanannya pun mudah, bisa berupa pellet atau bloodworm.
Ikan Prochilodus ada beberapa spesies, namun yang sering dijumpai di Indonesia hanya dua macam. Jenis yang warna dasar tubuhnya keemasan diberi nama Flag-tailed Prochilodus dengan nama ilmiah Prochilodus insignis. Sedangkan yang warna dasar tubuhnya keperakan dijuluki Silver Prochilodus (Prochilodus taeniurus). Keduanya termasuk famili Characidae. Di daerah asalnya Guyana, Inggris, dan Amazone bagian tengah, ikan ini terkenal sebagai "vegetarian". Hampir segala jenis sayuran disantapnya, bahkan bubur gandum pun dilahapnya.
Jenis yang keemasan lebih langka dijumpai di pasaran, dan warnanya lebih bagus daripada yang silver. Warna tubuh ikan berekor bendera ini sangay ceria, warna dasarnya keemasan, dengan sirip punggung, sirip perut, dan sirip dada dibalut warna merah. Keistimewaannya, ekornya yang lebar bercorak loreng kuning dan hitam, hingga kalau sedang menggerakkan ekornya kelihatan seperti kibaran bendera. Ukuran badannya bisa mencapai lebih dari 35 cm. Karena ukurannya bisa besar, penduduk di daerah asal ikan ini menangkapnya untuk dikonsumsi. Dia mulai dikenal sebagai ikan penghuni akuarium sejak 1910, dipelopori oleh hobiis ikan dari Jerman.
Ikan Prochilodus juga suka damai sehingga bisa dicampur dengan jenis lain, baik ukuran besar maupun kecil.
Perawatannya
Ikan ini sangat mudah dirawat. Penggantian air dilakukan 2 minggu sekali dengan membuang air separonya. Makanannya pun mudah, bisa berupa pellet atau bloodworm.
2011/06/05
Memijahkan ikan Maanvis (Angelfish)
Bentuk tubuhnya memang indah. Saat bergerak nampak gemulai dengan warna kulit yang menawan. Dengan semua daya pikatnya, tak heran bila si Bidadari banyak diincar masyarakat, untuk dinikmati keelokannya dalam akuarium. Hampir dapat dipastikan bila kita sudah mengenalnya, langsung akan jatuh cinta. Kata sebagian orang, si Bidadari ini sulit dikawinkan. Namun bila kita pintar merayu, niscaya dengan senang hati si Bidadari akan melakukan perkawinan.
Yang dimaksud dengan si Bidadari disini adalah salah satu jenis ikan hias air tawar. Namanya Ptereophyllum scalare, masyarakat umum di luar negeri (berbahasa Inggris) memanggilnya dengan nama "Angel fish".
Ikan Bidadari/Maanvis/Angelfish yang layak dikawinkan dan dicalonkan sebagai pengantin, sebaiknya yang sudah berumur lebih dari 6 bulan, panjang tubuhnya +/- 7,5 cm untuk jantan, dan +/- 5 cm untuk si betina. tentunya calon - calon pengantin tersebut harus sehat walafiat.
Untuk membedakan calon pengantin jantan dan betina, dapat dilihat dari ciri - ciri luarnya saja. Si jantan memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar, dibanding si betina, meskipun dalam umur yang sama. Bagian perut si jantan, terlihat nampak pipih dan ramping. sedangkan si betina pada perutnya nampak besar dan menonjol.
Selain ciri - ciri diatas, dapat pula dibedakan dengan melihat bagian depan kepalanya. Pada jantan, dari bagian mulut sampai sirip punggung bagian depannya, terlihat berbentuk cembung (menonjol). Sedangkan pada si betina, terlihat membentuk garis lurus/sedikit tirus. Dan juga pada bagian kepala si jantan terlihat berukuran lebih besar, dibanding si betina.
Jika membedakan jenis kelamin calon kedua induk tersebut, masih juga sulit dilakukan, dapat ditempuh cara lain yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Kita ambil beberapa calon induk ikan Bidadari, ke dalam satu wadah berukuran 2 X 2 m2, dan ketinggian air sekitar 30 cm. Dengan cara ini, diharapkan calon - calon induk tersebut akan memilih pasangannya masing - masing. Proses lirik - lirikan dan senggol - menyenggol akan berlangsung pada malam hari yang temaram.
Ikan yang telah menemukan pasangannya, akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk mengadakan "pembicaraan" yang lebih intim dalam rangka rencana pesta perkawinannya. Calon pengantin yang telah berpasangan ini, selanjutnya diangkat ke tempat lain untuk dikawinkan. Pasangan ikan tersebut sudah dapat dipastikan terdiri dari jantan dan betina.
Agar pesta perkawinan dapat berhasil dan berlangsung semeriah mungkin, maka perlu disiapkan pelaminan perkawinan berupa akuarium, bak atau paso, yang diisi air yang telah diendapkan setinggi 30 - 40 cm.
Untuk melekatkan telur hasil perkawinannya, disediakan bahan (subtrat) berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik, atau potongan pralon berukuran diameter 4 - 5 inci (tingginya 15 - 20 cm), atau juga dapat dibelah menjadi 2 bagian (diletakkan terlentang/digantung di samping akuarium dengan kawat).
Sebelum acara perkawinan dimulai, calon pengantin jantan biasanya mengontrol (kalau - kalau ada kekurangan) media penempel telur, dan membersihkannya dengan mulutnya. Bila media tersebut dianggap sesuai, aman dan bersih, maka calon pengantin jantan mulai mengajak calon pengantin betina untuk saling bercumbu rayu.
Bila cumbu rayu telah mencapai puncaknya, maka acara puncak perkawinan pun di mulai. Pengantin betina mengeluarkan telurnya di sekitar media penempel telur, untuk selanjutnya telur tersebut dibuahi pengantin jantan. Telur yang telah dibuahi akan menempel pada bahan yang telah dipersiapkan.
Hasil perkawinan yang berupa telur dapat segera ditetaskan. Untuk menetaskan telur si Bidadari ini, dapat dilakukan dengan 2 cara. Cara yang pertama, bahan yang telah ditempelkan telur, diangkat untuk dipindahkan ke dalam akuarium lain yang berfungsi untuk menetaskan telur (usahakan media dan telur senantiasa terendam atau basah oleh air). Untuk itu dapat digunakan wadah baskom. Cara kedua, telur yang akan ditetaskan dibiarkan tetap berada di dalam akuarium ikan pasangan tersebut. Untuk cara ini pasangan pengantin (induk ikan) dipindahkan terlebih dahulu ke bak atau akuarium pemeliaharaan induk.
Telur - telur yang akan ditetaskan, ada baiknya direndam sebentar dengan antibiotik, atau diteteskan obat anti jamur ke dalam akuarium penetasan untuk mencegah serangan jamur. Bila tidak ada aral melintang, 2 - 3 hari telur - telur tersebut akan menetas.
Anak - anak ikan Bidadari ini tidak perlu diberi pakan, karena masih mempunyai cadangan makanan diperutnya berupa yolksac. Baru setelah mulai belajar berenang, kira - kira 3 - 4 hari (dari telur tersebut menetas), diberi makanan berupa kutu air saring atau artemia. Kira - kira 5 - 7 hari setelah pemberian kutu air saring, kemudian diberikan kutu air tanpa disaring. Dan selanjutnya selama 1 (satu) minggu kemudian anak ikan tersebut bisa diberikan cacing sutera (tubifex).
Saat benih mulai mengkonsumsi cacing rambut, sudah saatnya dilakukan penjarangan agar populasi benih tersebut tidak terlalu padat. Pada umur 1,5 bulan, pada kolam/bak semen ukuran 1,5 X 2 m2, tinggi air 15 - 20 cm, dapat ditebar benih ikan Bidadari sebanyak 1.000 ekor.
Penjarangan berikutnya dilakukan setiap 2 minggu, dengan membagi 2, sehingga pada akhirnya setiap bak (akuarium) berisi 100 ekor ikan bidadari. Pembersihan kotoran dilakukan setiap 2 hari dengan sistem siphon. Air juga perlu diganti setiap 2 hari dengan menambah air sebagaimana semula.
Perawatan yang cermat dan teliti, akan menghasilkan ikan - ikan Bidadari yang sehat dan anggun. Pada umur 3 bulan, ikan - ikan Bidadari sudah layak dipasarkan dan tentunya juga banyak peminatnya.
Yang dimaksud dengan si Bidadari disini adalah salah satu jenis ikan hias air tawar. Namanya Ptereophyllum scalare, masyarakat umum di luar negeri (berbahasa Inggris) memanggilnya dengan nama "Angel fish".
Ikan Bidadari/Maanvis/Angelfish yang layak dikawinkan dan dicalonkan sebagai pengantin, sebaiknya yang sudah berumur lebih dari 6 bulan, panjang tubuhnya +/- 7,5 cm untuk jantan, dan +/- 5 cm untuk si betina. tentunya calon - calon pengantin tersebut harus sehat walafiat.
Untuk membedakan calon pengantin jantan dan betina, dapat dilihat dari ciri - ciri luarnya saja. Si jantan memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar, dibanding si betina, meskipun dalam umur yang sama. Bagian perut si jantan, terlihat nampak pipih dan ramping. sedangkan si betina pada perutnya nampak besar dan menonjol.
Selain ciri - ciri diatas, dapat pula dibedakan dengan melihat bagian depan kepalanya. Pada jantan, dari bagian mulut sampai sirip punggung bagian depannya, terlihat berbentuk cembung (menonjol). Sedangkan pada si betina, terlihat membentuk garis lurus/sedikit tirus. Dan juga pada bagian kepala si jantan terlihat berukuran lebih besar, dibanding si betina.
Jika membedakan jenis kelamin calon kedua induk tersebut, masih juga sulit dilakukan, dapat ditempuh cara lain yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Kita ambil beberapa calon induk ikan Bidadari, ke dalam satu wadah berukuran 2 X 2 m2, dan ketinggian air sekitar 30 cm. Dengan cara ini, diharapkan calon - calon induk tersebut akan memilih pasangannya masing - masing. Proses lirik - lirikan dan senggol - menyenggol akan berlangsung pada malam hari yang temaram.
Ikan yang telah menemukan pasangannya, akan memisahkan diri dari kelompoknya untuk mengadakan "pembicaraan" yang lebih intim dalam rangka rencana pesta perkawinannya. Calon pengantin yang telah berpasangan ini, selanjutnya diangkat ke tempat lain untuk dikawinkan. Pasangan ikan tersebut sudah dapat dipastikan terdiri dari jantan dan betina.
Agar pesta perkawinan dapat berhasil dan berlangsung semeriah mungkin, maka perlu disiapkan pelaminan perkawinan berupa akuarium, bak atau paso, yang diisi air yang telah diendapkan setinggi 30 - 40 cm.
Untuk melekatkan telur hasil perkawinannya, disediakan bahan (subtrat) berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik, atau potongan pralon berukuran diameter 4 - 5 inci (tingginya 15 - 20 cm), atau juga dapat dibelah menjadi 2 bagian (diletakkan terlentang/digantung di samping akuarium dengan kawat).
Sebelum acara perkawinan dimulai, calon pengantin jantan biasanya mengontrol (kalau - kalau ada kekurangan) media penempel telur, dan membersihkannya dengan mulutnya. Bila media tersebut dianggap sesuai, aman dan bersih, maka calon pengantin jantan mulai mengajak calon pengantin betina untuk saling bercumbu rayu.
Bila cumbu rayu telah mencapai puncaknya, maka acara puncak perkawinan pun di mulai. Pengantin betina mengeluarkan telurnya di sekitar media penempel telur, untuk selanjutnya telur tersebut dibuahi pengantin jantan. Telur yang telah dibuahi akan menempel pada bahan yang telah dipersiapkan.
Hasil perkawinan yang berupa telur dapat segera ditetaskan. Untuk menetaskan telur si Bidadari ini, dapat dilakukan dengan 2 cara. Cara yang pertama, bahan yang telah ditempelkan telur, diangkat untuk dipindahkan ke dalam akuarium lain yang berfungsi untuk menetaskan telur (usahakan media dan telur senantiasa terendam atau basah oleh air). Untuk itu dapat digunakan wadah baskom. Cara kedua, telur yang akan ditetaskan dibiarkan tetap berada di dalam akuarium ikan pasangan tersebut. Untuk cara ini pasangan pengantin (induk ikan) dipindahkan terlebih dahulu ke bak atau akuarium pemeliaharaan induk.
Telur - telur yang akan ditetaskan, ada baiknya direndam sebentar dengan antibiotik, atau diteteskan obat anti jamur ke dalam akuarium penetasan untuk mencegah serangan jamur. Bila tidak ada aral melintang, 2 - 3 hari telur - telur tersebut akan menetas.
Saat benih mulai mengkonsumsi cacing rambut, sudah saatnya dilakukan penjarangan agar populasi benih tersebut tidak terlalu padat. Pada umur 1,5 bulan, pada kolam/bak semen ukuran 1,5 X 2 m2, tinggi air 15 - 20 cm, dapat ditebar benih ikan Bidadari sebanyak 1.000 ekor.
Perawatan yang cermat dan teliti, akan menghasilkan ikan - ikan Bidadari yang sehat dan anggun. Pada umur 3 bulan, ikan - ikan Bidadari sudah layak dipasarkan dan tentunya juga banyak peminatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



