Neon tetra merupakan salah satu ikan pajangan akuarium yang cukup menarik. Kehadirannya sebagai ikan hias air tawar bukan hanya mempesona para akuaris, melainkan para pengusaha pun turut memperhitungkannya. Itu karena ikan kecil yang hanya dapat mencapai 4 cm ini, termasuk salah satu yang mempunyai nilai ekspor.
Keberhasilan neon tetra dalam merebut pasaran ekspor adalah berkat jasa William T. innes, yang mencoba memperkenalkan ikan ini di Amerika dan negara Eropa lainnya.
Untuk menghargai jasa William T. innes, maka para ahli sepakat untuk mengabadikan sebagian nama beliau pada nama ilmiah ikan neon tetra, yakni Hyphessobrycon innesi Myers.
Ikan yang pada sisi perutnya berwarna merah dengan strip biru muda memanjang dibagian tengah dan berwarna gelap pada bagian punggung, cocok untuk akuarium umum. Artinya, ikan ini bisa hidup damai dengan ikan hias lain dalam satu akuarium. Ia betah hidup pada suhu antara 20 - 26 derajat Celcius.
Diantara ikan - ikan yang tergabung dalam kelompok tetra dari keluarga Characidae, neon tetra termasuk yang agak sulit dipijahkan. Barangkali hal inilah yang membuat neon tetra mampu bertahan dengan harga yang relatif lebih tinggi dibanding ikan hias lain yang selevel. Meskipun secara fisik jantan dan betina mudah dibedakan. Ikan jantan umumnya lebih ramping dibandingkan betina. Demikian juga garis yang terdapat pada badannya. Pada yang jantan berbentuk lurus, sedangkan pada yang betina bengkok.
Pemijahan Cara Bartman
Pada bulan Mei 1952, G. Bartman membeberkan rahasia bagaimana cara memijahkan ikan neon tetra yang pada waktu itu dirahasiakan oleh para akuaris Jerman. Dan kemudian teknik pemijahan itu lebih populer dengan " Cara Bartman " ( Bartman's Method).
Mungkin diantara Anda ada yang ingin mencobanya ? Ikutilah petunjuk berikut ini, seperti yang ditulis oleh Dr. Herbert R Axelrod. Caranya begini ; sediakan sebuah akuarium dengan ukuran 30 X 25 X 25 cm. Kemudian bersihkan dan sterilkan akuarium tersebut. Selanjutnya isilah dengan air suling (destilasi) setinggi 11 cm dan biarkan selama 2 minggu.
Setelah itu buatlah larutan khusus untuk menstabilkan pH air media pemijahan. Caranya, sediakan sebuah botol jar (botol bekas selei). Kemudian larutkan potongan batang pohon "oak" (Quercus spp) dengan air suling, lalu saringlah larutan tersebut. Selanjutnya, larutan khusus yang telah bersih dicampur dengan air media pemijahan, sambil diukur sampai pHnya mencapai 6,5.
Langkah berikutnya, siapkan serumpun tanaman air dari jenis fontinalis. Sebelum digunakan, fontinalis perlu disterilkan lebih dahulu dengan suatu larutan berupa campuran antara 1 sendok makan tawas dengan 1 liter air suling.
Fontinalis yang sudah steril kemudian ditempatkan di tengah - tengah akuarium pemijahan. Suhu air dalam akuarium dipertahankan antara 23 - 24 derajat Celcius. Selanjutnya masukkan sepasang induk neon tetra yang sudah berumur lebih dari 9 bulan. Cahaya disekitar tempat pemijahan diusahakan agak teduh.
Begitu selesai memijah, yang ditandai dengan adanya telur di dalam akuarium, segera kedua induknya dipindahkan. Hal ini penting untuk mencegah telur itu dimakan kembali oleh induknya. Akuarium dengan telur neon tetra di dalamnya kemudian ditutup selama 24 jam, tidak boleh ada cahaya yang masuk. Suasananya diciptakan setenang mungkin. Setelah burayak berumur 3 hari sejak menetas, sudah bisa diberi makanan hidup berupa artemia.
Mengawinkan ikan neon tetra memang relatif sulit. tetapi harapan yang dijanjikan cukup menggairahkan.
NB :
Dewasa ini ikan neon tetra sudah banyak berhasil dipijahkan di Indonesia, terutama disekitar Sawangan dan Depok yang termasuk salah satu daerah sentra pemijahan ikan - ikan tetra, yang penulis sendiri sering lakukan berkunjung ke sana.
Sumber : Suara Karya ( 27 Desember 1988 ), Dok. Trubus.
2011/05/17
2011/05/16
Cichlasoma Synspilum
Corak warnanya itu akan tampak sangat cemerlang jika ia sudah berukuran sekitar 20 cm.
Jika hendak dipelihara dalam akuarium, Cichlasoma synspilum memerlukan air ber-pH 7 dengan suhu 22 - 30 derajat Celcius. Karena ia menghendaki air yang bersih, maka airnya harus diganti 5 hari sekali. Air yang cocok untuk Cichlasoma synspilum ini adalah air sumur yang belum tercemar. Akuarium untuk Cichlasoma synspilum sebaiknya dipasangi filter dan aerator. Selain itu, akuarium juga perlu diberi batu - batuan, untuk menyerap kotoran ikan maupun sisa - sisa makanannya. Dengan adanya filter, kotoran yang mengambang di permukaan air akan tersedot ke dalam tabung filter. Sementara aerator akan memasok oksigen ke dalam air akuarium.
Di alam aslinya, ia senang memakan tumbuhan, larva, maupun ikan - ikan kecil. Akan tetapi, Cichlasoma synspilum yang dipelihara dalam akuarium bisa diberi pakan khusus kalengan, ikan mas kecil, udang, cacing sutera (tubifex), bahkan sayuran.
Cichlasoma synspilum sangat aktif bergerak, meskipun hanya pelan - pelan saja. sebenarnya ia termasuk dalam jajaran ikan yang agresif, dan gemar sekali memangsa ikan lain yang lebih kecil. Oleh karena itu, ia tidak bisa dibiarkan hidup seakuarium dengan ikan lain yang ukurannya lebih kecil.
Pertumbuhannya amat lambat, untuk mencapai panjang badan 20 cm memerlukan waktu 2,5 tahun, meskipun ia sudah diberi pakan yang cukup.
Sumber : Trubus, Mei 1990
2011/05/14
Frontosa, Ikan Hias Bertampang Galak Tapi Pendamai
Frontosa, meski berasal dari Afrika, namun telah besar dan beranak - pinak di Indonesia. Kalau lihat wajahnya pasti yang muncul adalah kesan galak. Padahal frontosa justru sebaliknya. Ikan ini termasuk pendamai. Ia berasal dari danau Tanganyika, Afrika. Bentuk kepalanya tergolong unik, karena jidatnya menyembul kedepan hampir sejajar dengan moncong. Frontosa yang mempunyai nama latin Cyphotilapia frontosa merupakan ikan hias air tawar dari family Cichlidae.
Mengerami di mulut
Pada dasarnya, mengawinkan ikan Cichlidae seperti frontosa dalam beberapa hal sama dengan rekan - rekannya yang lain, biasanya terletak pada hal - hal yang spesifik untuk masing - masing jenis. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana kita saja dalam menekuni kegiatan mengawinkan ikan tersebut.
Salah satu sifat yang berkaitan dengan sistem reproduksi frontosa adalah kebiasaannya dari induk betinanya, yaitu mengerami telur di mulut selama beberapa hari. Kemudian bila telah mendekati waktu menetas, telur - telur itu diletakkan pada tempat yang terlindung sampai akhirnya menetas disitu. Biasanya dipilih celah - celah batu atau tempat - tempat yang berongga seperti gua.
Ikan yang bersifat mengerami telur di mulut, umumnya membutuhkan tempat memijah yang tenang. Jauh dari kebisingan, apalagi gangguan yang mengejutkan. Bila ia kaget karena dikejutkan, sementara ia sedang mengerami telur, maka semua telur yang ada di mulut akan dimuntahkan. Jika sudah demikian, telur - telur tersebut tidak bisa diharapkan menetas. Karena masa inkubasinya tidak tercapai. Oleh sebab itu, faktor ketenangan dalam pemijahan frontosa, penting sekali diperhatikan.
Faktor lain yang tak kalah penting dalam mengawinkan frontosa adalah menentukan jantan - betina yang siap pijah. Seperti halnya ikan hias lain yang tergolong sulit dalam menentukan jantan - betina, maka bisa dicoba dengan cara memelihara beberapa ekor frontosa dewasa dalam sebuah akuarium. Secara naluri, mereka kan memilih sendiri pasangan yang cocok. Jika sudah terlihat ada tang berpasangan, dapatlah dipastikan bahwa itu adalah jodoh mereka.
Menurut Dr. Axelrod, dalam bukunya " Mini Atlas Of Freshwater Aquarium Fishes", sebuah akuarium kapasitas 400 liter aiar adalah merupakan tempat yang ideal bagi berlangsungnya pemijahan frontosa. Dasar akuarium diberi batu - batu yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk celah - celah (rongga). Untuk medianya, ia perlu air yang agak basa dengan pH 8,3 dan kesadahan 394 ppm. Suhu, sehari - hari mereka cocok pada 22 - 28 derajat Celcius. Tetapi untuk kawin mereka hanya butuh 27 derajat Celcius.
Jika semua syarat yang dikehendaki frontosa telah terpenuhi, maka tinggal menunggu saja "lahir" anak - anak mereka. Induk frontosa bukan hanya mengerami telur di mulut, tapi anak - anaknya yang masih kecil pun bila terancam bahaya, suka di sedot ke dalam mulutnya.
Untuk mengetahui apakah anaknya sudah lahir atau belum, kita perlu secara periodik mengontrol tempat pemijahannya. Bila terlihat ada satu - dua larva diantara mereka, itu pertanda mereka telah selesai memijah. Urusan mengasuh anak, cukup diserahkan pada yang betina saja. Sang jantan bisa dipindah ketempat lainnya.
Sejak ditempatklan dalam akuarium pemijahan, frekwensi pemberian makan kepada induk sudah mulai menurun, bahkan telah dihentikan sama sekali. Ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terganggu dan bisa lebih konsentrasi untuk kawin. Karena itu, begitu mereka selesai memijah, pemberian pakan perlu lebih diintensifkan. Meskipun ia cocok dengan pakan buatan (Dry, package food) khusus bagi induk yang selesai memijah, dianjurkan memberi makanan segar dari jenis pakan hidup (makanan alami) berupa cacing sutera (tubifex).
Garis Enam
Bila kita berhasil mengawinkan frontosa dengan mengacu pada petunjuk seperti yang dipaparkan diatas, ini tentu suatu prestasi yang cukup membanggakan. Mengingat tingkat kesulitannya hampir sama dengan mengawinkan ikan discus. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara memelihara ikan ini sampai ukuran layak jual.
Frontosa secara morfologi bentuknya tidak berbeda dengan kebanyakan ikan siklid seperti Ramirezi atau ikan Nila dan Mujair. Kecuali bentuk kepala dan ornamen di badannya. Dari segi warna sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tubuhnya terdiri dari warna hitam dan putih yang berbentuk garis - garis melintang. Tetapi ternyata, jumlah garis (stripe) hitam itulah yang menentukan tinggi rendahnya harga frontosa.
Menurut beberapa pedagang ikan hias, frontosa yang banyak dicari dan diminati adalah frontosa yang memiliki garis hitam dibadannya sebanyak 6 (enam) buah, jika dihitung dari ekor sampai kepala atau sebaliknya.
Sumber : Suara Karya (12 Februari 1992), Dok. Trubus.
Mengerami di mulut
Pada dasarnya, mengawinkan ikan Cichlidae seperti frontosa dalam beberapa hal sama dengan rekan - rekannya yang lain, biasanya terletak pada hal - hal yang spesifik untuk masing - masing jenis. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana kita saja dalam menekuni kegiatan mengawinkan ikan tersebut.
Salah satu sifat yang berkaitan dengan sistem reproduksi frontosa adalah kebiasaannya dari induk betinanya, yaitu mengerami telur di mulut selama beberapa hari. Kemudian bila telah mendekati waktu menetas, telur - telur itu diletakkan pada tempat yang terlindung sampai akhirnya menetas disitu. Biasanya dipilih celah - celah batu atau tempat - tempat yang berongga seperti gua.
Ikan yang bersifat mengerami telur di mulut, umumnya membutuhkan tempat memijah yang tenang. Jauh dari kebisingan, apalagi gangguan yang mengejutkan. Bila ia kaget karena dikejutkan, sementara ia sedang mengerami telur, maka semua telur yang ada di mulut akan dimuntahkan. Jika sudah demikian, telur - telur tersebut tidak bisa diharapkan menetas. Karena masa inkubasinya tidak tercapai. Oleh sebab itu, faktor ketenangan dalam pemijahan frontosa, penting sekali diperhatikan.
Faktor lain yang tak kalah penting dalam mengawinkan frontosa adalah menentukan jantan - betina yang siap pijah. Seperti halnya ikan hias lain yang tergolong sulit dalam menentukan jantan - betina, maka bisa dicoba dengan cara memelihara beberapa ekor frontosa dewasa dalam sebuah akuarium. Secara naluri, mereka kan memilih sendiri pasangan yang cocok. Jika sudah terlihat ada tang berpasangan, dapatlah dipastikan bahwa itu adalah jodoh mereka.
Menurut Dr. Axelrod, dalam bukunya " Mini Atlas Of Freshwater Aquarium Fishes", sebuah akuarium kapasitas 400 liter aiar adalah merupakan tempat yang ideal bagi berlangsungnya pemijahan frontosa. Dasar akuarium diberi batu - batu yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk celah - celah (rongga). Untuk medianya, ia perlu air yang agak basa dengan pH 8,3 dan kesadahan 394 ppm. Suhu, sehari - hari mereka cocok pada 22 - 28 derajat Celcius. Tetapi untuk kawin mereka hanya butuh 27 derajat Celcius.
Jika semua syarat yang dikehendaki frontosa telah terpenuhi, maka tinggal menunggu saja "lahir" anak - anak mereka. Induk frontosa bukan hanya mengerami telur di mulut, tapi anak - anaknya yang masih kecil pun bila terancam bahaya, suka di sedot ke dalam mulutnya.
Untuk mengetahui apakah anaknya sudah lahir atau belum, kita perlu secara periodik mengontrol tempat pemijahannya. Bila terlihat ada satu - dua larva diantara mereka, itu pertanda mereka telah selesai memijah. Urusan mengasuh anak, cukup diserahkan pada yang betina saja. Sang jantan bisa dipindah ketempat lainnya.
Sejak ditempatklan dalam akuarium pemijahan, frekwensi pemberian makan kepada induk sudah mulai menurun, bahkan telah dihentikan sama sekali. Ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terganggu dan bisa lebih konsentrasi untuk kawin. Karena itu, begitu mereka selesai memijah, pemberian pakan perlu lebih diintensifkan. Meskipun ia cocok dengan pakan buatan (Dry, package food) khusus bagi induk yang selesai memijah, dianjurkan memberi makanan segar dari jenis pakan hidup (makanan alami) berupa cacing sutera (tubifex).
Garis Enam
Bila kita berhasil mengawinkan frontosa dengan mengacu pada petunjuk seperti yang dipaparkan diatas, ini tentu suatu prestasi yang cukup membanggakan. Mengingat tingkat kesulitannya hampir sama dengan mengawinkan ikan discus. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara memelihara ikan ini sampai ukuran layak jual.
Frontosa secara morfologi bentuknya tidak berbeda dengan kebanyakan ikan siklid seperti Ramirezi atau ikan Nila dan Mujair. Kecuali bentuk kepala dan ornamen di badannya. Dari segi warna sebenarnya tidak terlalu istimewa. Tubuhnya terdiri dari warna hitam dan putih yang berbentuk garis - garis melintang. Tetapi ternyata, jumlah garis (stripe) hitam itulah yang menentukan tinggi rendahnya harga frontosa.
Menurut beberapa pedagang ikan hias, frontosa yang banyak dicari dan diminati adalah frontosa yang memiliki garis hitam dibadannya sebanyak 6 (enam) buah, jika dihitung dari ekor sampai kepala atau sebaliknya.
Sumber : Suara Karya (12 Februari 1992), Dok. Trubus.
Langganan:
Postingan (Atom)




